Rabu, 19 Oktober 2016

Aku (Akhirnya) Ditilang!!

Pengalaman Ditilang dan Mengurus Surat Tilang 

Saya tidak punya SIM. Ya. Saya tidak punya SIM padahal saya wara-wiri mengendarai kendaraan bermotor selama bertahun-tahun. Tidak perlulah saya kemukakan alasan, bahkan sampai 3 tahun saya sudah tinggal disini. Saya bisa buat daftar alasan dan intinya satu: saya tidak punya SIM.

Pada suatu sabtu pagi yang sejuk, saya kena pemeriksaan kendaraan roda 2 di depan kantor POLSEK, dan sudah dipastikan SAYA KENA TILANG. Tidak berusaha menghindar, saya mengakui kelalaian. Polisi yang memeriksa saya dengan sopan, langsung meminta saya untuk masuk ke salah satu ruangan dan antri setelah memberikan STNK sepeda motor saya kepada petugas yang melakukan pencatatan. Setelah dipanggil, saya mengakui kesalahan saya dan saya diminta menghadiri sidang yang dijadwalkan 2 minggu ke depan. Setelah mengantongi surat tilang berwarna merah, saya diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Keluarlah saya dari kantor Polisi dengan perasaan tidak sabar ingin mengabarkan pada suami bahwa saya ditilang :D. Pengalaman pertama kena tilang dan saya lega. Aneh ya? Entahlah.. yang pasti saya merasa sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia yang memiliki peraturan dalam berkendara. Hehehehe... 

Selama ini saya banyak mendengar tentang proses tilang dan pengurusannya, baik di jalan maupun di pengadilan. Banyak cerita simpang siur dengan berbagai variasinya, dan percaya gak percaya, ini malah membuat saya bersemangat menunggu jadwal sidang saya tiba. Apa yang akan terjadi, bagaimana sidang berjalan, berapa saya harus membayar... semua pertanyaan di kepala yang akan terjawab pada saatnya nanti.

Taraaaa.. Lalu datanglah hari ini. Sesuai jadwal, sidang saya berlangsung hari ini jam 9.00 WITA. Sedari pagi, saya sudah mempersiapkan diri, termasuk mengantar anak saya ke sekolah lebih pagi dari biasa sehingga saya bisa hadir di pengadilan 30 menit lebih awal. Ternyata Kantor Pengadilan Negerinya masih lengang, saya termasuk yang pertama datang untuk mengurus surat tilang ini. 

Di ruang depan ada semacam meja resepsionis, yang saat itu dikelilingi beberapa lelaki berbaju batik dan safari, sedang merokok dengan santai. Saya memberanikan diri bertanya kemana jika saya hendak mengurus surat tilang. Salah satu lelaki berbaju batik malah balik bertanya, "Ibu mau sidang tilang atau mau bagaimana?". "Ya, pak, saya mau menghadiri sidang tilang saya," begitu jawab saya polos. Setelah itu, lelaki tersebut menunjukkan arah menuju sebuah ruangan yang menjadi tempat saya untuk mendaftar sidang. Ruangan yang saya tuju tertulis PANMUD PIDANA beserta nama petugas terkait dibawahnya. Di saat itulah saya baru menyadari bahwa saya telah terlibat kasus pidana. Ini serius. 

Di ruangan tersebut, saya kembali menyebutkan maksud kedatangan saya pada semua orang. Ya, semua orang, karena di sana terdapat beberapa meja yang sebagian diisi 3 orang siswa sekolah yang sedang magang, dan 2 orang pegawai pengadilan. Salah seorang pegawai pengadilan berinisiatif melayani saya, lalu terjadilah dialog seperti ini:

PP: "Ibu mau ikut sidang aja...?"

Saya: "Ya, pak. Saya datang kesini karena mau ikut sidang."

PP: "O... Saya pikir ibu tidak mau ikut sidang. Ya sudah, bukti tilang ibu ditinggal dulu saja, ibu silahkan menunggu di luar. Nanti kalau sidang dimulai ibu akan dipanggil."

Keluar dari ruang tersebut, saya sempat membatin, kok sudah 2 kali saya ditanya kembali apakah saya mau ikut sidang. Meski sempat heran tapi saya abaikan. Keheranan terjawab saat saya duduk di ruang tunggu. Seorang lelaki berbaju batik mengajak saya ngobrol dan berujung pada pertanyaan yang sama: "Ibu mau ikut sidang?" Saya jadi tergerak untuk menggali lebih jauh dengannya. Mari beri dia inisial LB

Saya: "Iya, pak. Kan dari tadi saya sudah bilang, saya ke sini karena mau ikut sidang."

LB: "Ibu darimana? memangnya ibu tidak buru-buru ya?"

Saya: "Saya dari daerah sini. Dekat aja, Pak."

LB: "Ibu gak ada urusan lain ya? kalau ada urusan lain, saya ambilkan aja STNK ibu yang ditahan itu."

Saya: "Lho, saya kan harus menghadiri sidang dulu baru bisa ambil STNK saya. Memangnya bisa ya langsung ambil begitu?" 

LB: "Sebentar saya tanyakan dulu ya, bu."

Lelaki berbaju batik tersebut lalu meninggalkan saya dan masuk ke ruang pendaftaran sidang tadi. Setelah keluar, ia langsung mendekati saya.

LB: "Bisa saja, bu. Biayanya seratus ribu. Bisa langsung saya ambilkan"

Saya: "Memangnya kalau lewat sidang, dendanya berapa, pak?"

LB: "Paling hanya tujuh puluh lima ribu saja, bu. Apalagi tadi ibu bilang ibu temannya Ibu XX (salah satu nama hakim di PN tersebut, yang adalah salah satu teman saya), bilang saja ke hakimnya, paling kena lima puluh ribu."

Saya: "Gak apa-apa, pak. Saya ikut sidang saja"

Tak lama, lelaki tersebut berpamitan. Setelah obrolan kesana-kemari dengan sesama penunggu dan jadwal sidang telah lewat 40 menit, saya dan beberapa orang dengan kasus yang sama dipanggil ke ruang sidang. Sidangnya cukup ringkas dan tidak memakan waktu. Saya yang memang datang duluan dipanggil pertama kali. Saya ditanya kelalaian apa yang saya lakukan sehingga mendapatkan surat tilang. Hakim yang menyidang saya sempat bertanya kelengkapan kendaraan saya (spion, lampu sein, dll) dan pelanggaran lain yang mungkin saya lakukan hingga mendapat surat tilang. Saya yakinkan bahwa motor saya lengkap dan saya selalu berusaha tertib berkendara di jalan. Setelah informasi yang saya berikan dirasa cukup, hakim memutuskan saya bersalah karena berkendara meski tak punya ijin dan harus membayar seratus dua puluh lima ribu rupiah (termasuk biaya sidang seribu rupiah). Saya dipersilahkan keluar ruang sidang untuk menuju meja dimana ada petugas yang siap menerima pembayaran. 

Saat petugas sedang menuliskan tanda terima pembayaran, lelaki berbatik yang mengajak ngobrol saya di ruang tunggu tadi menghampiri meja.


Biaya Sidang hanya Rp.1000,-

LB: "Berapa kena, bu"

Saya: "Seratus dua puluh lima ribu, pak"

LB: "Coba tadi saya ambilkan aja, (lebih) murah. Hanya seratus ribu saja."

Saya tersenyum saja. Kalau hanya persoalan matematika, ya saya rugi, membayar lebih tinggi. Tapi saya berketetatpan ini bukan perkara uang saja. Lelaki tersebut lalu berbicara kepada petugas pembayaran (PPy):

LB: "Ibu nih kawannya Ibu XX lho, Pak. Tapi tadi dia gak bilang sama hakim, jadi kena denda tinggi."

PPy: "Oh begitu ya, bu..." katanya terkaget sembari menyerahkan tanda terima pembayaran denda.

Tak ingin berlama-lama, saya akhirnya berbicara: "Saya ini punya juga keluarga angota KPK, pak. Kalau saya ikuti anjuran bapak, urusan saya dan bapak malah bisa lebih panjang."

Mendengar ungkapan saya, lelaki berbaju batik tadi mengangguk-anggukan kepala seraya mundur teratur. Sementara petugas pembayaran mengucapkan "O..." yang sangat panjang. Saya pun meninggalkan kantor pengadilan setelah mengucapkan terima kasih.

Sungguh, surat tilang memberikan banyak cerita pada saya. Semoga perjuangan saya untuk memiliki SIM segera berakhir. Semangat!!






Rabu, 24 Februari 2016

Foto Keluarga

The Febrianda
Halo, semua! Perkenalkan inilah keluarga kecilku. Sebelumnya aku berterima kasih sekali atas teknologi pencitraan dan kepiawaian Sang Fotografer sehingga bisa muncul foto indah ini. Bagi siapapun yang mengenal aku dan keluargaku, pasti takjub karena ternyata kami bisa berfoto sebaik ini dan terlihat demikian imut-imut :D. Padahal aslinya, semua pasti setuju, (berat badan) aku dan suami diatas rata-rata semua,  dan anak-anak kami posturnya lebih besar dari pada usianya. Alhamdulillah. Hehehehe....

Sama seperti keluarga lainnya, sejak dulu aku ingin punya foto keluarga. Pernah sih foto keluarga di sebuah studio foto di Depok, enggak sengaja juga karena itu ide spontan pas mau bikin passfoto untuk KTP. Tahun berapa ya? Lupa deh.. tapi Andini masih bayi waktu itu. Sekitar tahun 2010 deh kayaknya. Trus pas udah selesai dan lihat hasilnyaaa... Jreng-jreng... Kok kaya keluarga tentara yang ayahnya baru pulang tugas gitu ya? Hahahahaha... Kalau lihat foto itu, sampai sekarang masih suka ketawa. Beneran kaya keluarga tentara. Hebat editannya X)) Suami juga agak-agak gimana waktu itu. Salah sendiri, dia kan fotografer, tapi foto keluarga di studio ya begitulah jadinya hehehehe. 

Setelah itu, terbesitlah rencana bikin foto keluarga sendiri, tapi sampai akhirnya lahir Keumala belum juga kesampaian. Untunglah semua terpenuhi saat domisili sudah pindah ke utara Kalimantan Selatan ini. Jadi suatu hari yang cerah, dijadwalkanlah sessi khusus untuk bikin foto keluarga. Serius dijadwalkan. Bahkan saking seriusnya, semua dibicarakan dan disiapkan dengan matang. Anak-anak sudah dikasih tau dari hari-hari sebelumnya. Skenario pemotretannya kami catat dan diskusikan bareng.

Di hari 'H' nya, sore itu, peralatan fotografi Si Ayah keluar semua. Aku ngurusin wardrobenya dengan berbagai tema sehingga kamar serasa benar-benar ruang ganti di tempat peragaan busana. Hahahahaha. Hasilnya? Oke banget!!! Meski durasi pemotretan tidak lebih dari 2 jam, tapi kami bisa melakukan pemotretan dalam 3 tema berbeda (kain tradisional/tenun, casual/jeans dan batik/muslim). Beberapa teman dan saudara yang melihat hasil foto kami banyak yang tidak percaya kalau sessi foto berlangsung di halaman belakang rumah kontrakan kami. Alhamdulillah...

Foto di atas adalah salah satu foto favoritku. Karena di foto ini aku melihat masing-masing dari kami memancarkan diri sebenarnya, seadanya. Alami sekali. Siapa bilang bikin sendiri foto keluarga itu ribet? Semua sepadan kok :)




AKU PENULIS!!

Ya, sengaja judulnya kubuat demikian. Tak lain dan tak bukan agar aku lebih termotivasi lagi untuk menulis. Menulis dalam blog, maksudku. Hmm... Jadi ingat percakapan dengan suami di suatu senja beberapa hari lalu:

Dia : Kamu itu penulis, tapi kok akhir-akhir ini tulisannya gak pernah aku lihat.
Aku: Aku kan saat ini juga menulis. Menulis kenangan dan sejarah pada memori anak-anak kita.
Dia : *nimpuk pake bantal

Ngeles banget, kan? kan? kan? Memang, sejak kontrak dengan sebuat agency untuk menulis dan mengelola fanpage satu produk susu pertumbuhan terkenal satu tahun lalu, aktivitas menuliskku jadi menurun.

Yalaaahh.. dulu kan tiap minggu harus bikin konten, maintain fanpage. Di antara melakukan itu akupun masih menulis untuk agency naskah dan beberapa kali membantu merekap dan membuat intisari hasil wawancara. Riweuh? Pastilaaahhh.. Apalagi setelah pindah domisili ke pulau Borneo ini. Jauh dari keluarga, susah cari asisten. Ngurus rumah dan anak sendiri? Yes! (eh, ada bude yang bantu setrika seminggu 3x siiihh). Naaahhhh... Kok bisa ya? Ya, ternyata dulu aku bisa! Ajaib. Membayangkannya aja aku takjub.

Jaaaadiiiii... Kalau dulu dengan aktivitas sebejibun itu aku bisa, masa sih sekarang gak bisa ya? Nah, itulah yang kujadikan motivasi. Daaaannn... Tulisan kedua setelah tulisan pertama di blog, yang kubuat beberapa tau lalu itu, semoga menjadi pembuka keran agar aku rajin menulis di sini. Amiinn..