Minggu, 29 Januari 2012

Ayo, Bertualang Ke Baduy!!

Rombongan berfoto bersama warga lokal yang mendampingi.
Menjelang akhir tahun 2012, suami tiba-tiba punya ide brillian untuk mengisi liburan: menginap di Baduy! Kebayang dong antusiasnya aku yang jatuh cinta pada kesahajaan budaya Baduy sejak pertama kali ke sana saat berseragam putih abu. 

Meski idenya spontan, bukan berarti tanpa persiapan dong. Apalagi, waktu itu ada 3 anak yang masih lumayan kecil-kecil ya. Hatta aja baru kelas 2 SD jadi umurnya baru akan 8 tahun, Sementara Andin baru aja 3 tahun dan Keumala masih bayi umur 1 tahun 2 bulan. Tapi itu gak sedikitpun mengurangi semangatku. Jadi semepet-mepetnya waktu, aku dan suami diskusi matang tentang segala sesuatunya. Ini dia kurang lebih yang kami bahas:

1. Destinasi Logis.
    Dengan 3 anak yang masih kecil-kecil, kami sepakat untuk mengesampingkan keinginan diri untuk bisa sampai ke Cibeo, yaitu salah satu kampung Baduy Dalam yang harus ditempuh minimal 6 jam perjalanan berjalan kaki. Jadi kami memutuskan untuk cukup puas jika bisa mencapai Kampung Gajeboh yang bisa ditempuh dengan 1-2 jam berjalan kaki. 
Aku dan Keumala di pinggir Huma (ladang padi)

2. Akomodasi Memadai.
    Kalau jaman masih berdua sih oke banget untuk live-in di perkampungan Baduy yang tanpa listrik dan menjadikan sungai sebagai tempat bersih-bersih. Tapi kalau udah ada anak, apalagi balita, kamar mandi jadi kebutuhan utama. 
   Setelah mengumpulkan informasi sana-sini, akhirnya kami dapat informasi bahwa ada rumah singgah yang bisa kami pakai di kampung Ciboleger (oya, meski Ciboleger bukan termasuk Kampung Adat Baduy, tapi letaknya sepelemparan batu aja dengan Kampung Baduy pertama: KaduKetug). Di rumah singgah tersebut dilengkapi kamar-kamar dengan kasur sederhana, berpenerangan listrik dan ada kamar mandi di belakang rumah. 
  Untungnya letak rumah singgah ini letaknya dekat perbatasan kampung Ciboleger dan KaduKetug. Jadi dapatlah ya suasana Baduy yang eksotis itu.

3. Amankan Konsumsi.
   Bawa perbekalan yang cukup: roti, lauk makan (rendang, abon), cemilan (kue, biskuit), susu kotak. Makanan sengaja membawa banyak, bukan karena takut kelaparan, tapi karena kami ingin mengajak warga lokal yang jadi pendamping untuk makan bersama. Biasanya, nanti gantian mereka yang menjamu kami makan ala mereka. Nah, bagian ini akan jadi pengalaman berharga banget buat mereka, lho! Oya, di Ciboleger itu banyak warung, warung makan dan warung kelontong jadi don't worry keabisan makanan/cemilan. Jadi waktu pergi sih yang banyak kami siapkan ya RENDANG, dong :)

4. Pakaian Cukup
     Ini sih lebih ke masalah kebiasaan ya. Tapi memastikan ada pakaian yang cukup selama perjalanan akan membuat tenang. Standarnya sih, aku menyiapkan 3 baju untuk 1 hari. Amannya, celana panjang dan kaos (pendek/panjang, random aja). Ini pilihan yang paling aman dari segi estetika maupun susila :)). Sandal gunung jadi pilihan paling gampang dan usefull, tapi andin waktu itu juga pake sendal karakter kesukaannya sukses aja tuh jalan jauh. Yang penting nyaman dipakai.
Dimanapun berada, anak-anak selalu menemukan cara untuk main :)

5. Komitmen untuk kompak dan kerjasama
    Percaya gak percaya, hal ini harus dibahas juga. Kan pergi sama 3 anak pasti butuh kerjasama antar ayah-ibu. Dan biasanya, di alam terbuka, orang tua lebih kompak dan solid, lho :)


Semua hal-hal yang udah dibahas ini, biasanya kami bicarakan juga sama anak-anak, biar mereka lebih siap dan gak bingung tentang segala hal. Menghadapi perjalanan apalagi pakai menginap, pasti dong ya anak-anak punya banyak pertanyaan dan kebingungan. beberapa yang ditanyakan Hatta dan Andin misalnya: "nanti kita makannya bagaimana?" "Mandinya di sungai ya, bu?" "disana gak bisa main HP ya?". Sederhana tapi nyata.

Serunya main di pinggir sungai

Perjalanan ke Baduy ini membuka mata aku dan suami, bahwa ternyata anak-anak yang selalu kita khawatirkan itu ternyata kuat dan tangguh. Buktinya, Hatta (8) dan Andin (3) selalu menjadi pemimpin rombongan saat perjalanan. Mereka menikmati setiap tanjakan dan turunan selalu dengan hati riang dan kecepatan yang stabil, sehingga kami anggota rombongan dewasa malah jauh tertinggal. Keumala (15 bulan) juga ternyata baik-baik saja dan tetap ceria meski sepanjang jalan pulang ke Gajeboh hujan turun dengan derasnya dan dia hanya dilindungi oleh plastik seadanya. Alam menempa, alam melatih. 

Jadi, jangan ragu-ragu untuk mengajak anak-anak bertualang :)    
 

6 komentar:

  1. masyaa Allah..ditunggu pelajaran2 serunya ya mba :) *1. Jgn takut membawa anak berpetualang 2. Anak2 bisa tangguh dan menikmati krn alam menempa mereka...noted buuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir ya... Yuk, bertualang bareng :)

      Hapus
  2. masyaa Allah..ditunggu pelajaran2 serunya ya mba :) *1. Jgn takut membawa anak berpetualang 2. Anak2 bisa tangguh dan menikmati krn alam menempa mereka...noted buuu

    BalasHapus
  3. yan inspiratif banget, jadi pengen nyoba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cobain, Cha. Serunya beda banget, lho :)

      Hapus
  4. Ayo bu yanti balapan menulis . ..jadi semangat goBlog lagi. Belajar nulis sama b yanti

    BalasHapus