Selasa, 08 Maret 2011

Keturunan-Sebuah Prolog


“Aslinya mana, Mas?”
“Tegal!”

Petikan iklan ini sempat popular beberapa tahun lalu, dan saya sendiri nyaris selalu tersenyum jika melihat iklan ini di tv. Tapi yang akan diulas di sini bukanlah pemilihan dialog yang “kena” banget sebagai sebuah “reminder” iklan –coz advertisement is not my world; yang akan saya ulas adalah bagaimana pertanyaan sederhana tersebut sering muncul di sekitar kita, terutama saat kita bertemu dengan orang baru.

Jika mendapatkan pertanyaan demikian, saya menjawab dengan kota asal daerah tempat tinggal: “Bandung”. Pada beberapa kejadian, bahkan berlanjut dengan pertanyaan: “berarti orang Sunda?”; berarti pertanyaan berlanjut pada pertanyaan tentang kesukubangsaan. Karena kebetulan saya orang Bandung, orang tua saya keduanya Sunda, dibesarkan dengan nilai-nilai Sunda, maka saya bisa menjawab pertanyaan demikian dengan mudah dalam satu kata “Ya”.

Setiap kali pertanyaan tersebut diajukan, hampir semua orang yang saya temui menjawab dengan nama kota daerah asal. Tetapi saat pertanyaan berlanjut tentang suku bangsa asal, maka beberapa teman yang kebetulan berasal dari orangtua dengan suku berbeda biasanya hanya mengemukakan bahwa ibunya suku A sedang bapaknya suku B. Kebanyakan dari mereka tidak bisa memutuskan atau bahkan cenderung tidak peduli termasuk suku bangsa apakah mereka.

Sebagai orang yang mempelajari suku bangsa khususnya dari sisi garis keturunannya (sistem kekerabatan), saya jadi miris dengan hal ini karena menurut saya masalah suku bangsa dan garis keturunan ini menjadi salah satu ciri khas bangsa kita. Lebih jauh, setahu saya masalah kesukubangsaan ini merujuk pada hal yang lebih luas lagi yaitu hak dan kewajiban individu dalam kelompok suku bangsanya.

Secara umum, penarikan garis keturunan dilakukan dengan 2 cara, yaitu penarikan dari sepihak (unilineal) dan dua pihak (bilineal). Penarikan garis keturunan sepihak dilakukan hanya melalui garis ayah saja (patrilineal) atau ibu saja (matrilineal). Sebagai contoh, salah satu suku bangsa patrilineal di Indonesia yaitu Batak, sehingga seorang anak adalah sesuku dengan ayahnya dan kelak yang meneruskan garis keturunan ini adalah anak-anak laki-laki saja. Demikian halnya yang terjadi pada suku Minang yang menganut matrilineal, seseorang merupakan anggota suku ibunya dan penerus garis keturunan adalah perempuan-perempuan dalam suku. Sementara penarikan garis dua pihak dilakukan baik dari garis ayah maupun garis ibu; lebih dikenal sebagai parental. Suku Sunda dan Jawa merupakan 2 dari sekian suku yang menganut penarikan garis keturunan ini.

Adanya garis keturunan ini memberi hak dan kewajiban kepada individu berkaitan dengan posisinya dalam kelompok sukunya. Secara langsung, misalnya masalah hak atas harta bersama (harta suku) dan kewajiban meneruskan garis keturunan sesuai dengan yang digariskan. Ulasan tentang hal ini sangat panjang, mungkin akan saya ulas di tulisan saya yang lain.